Kamis, 05 April 2018

Muhasabah Diri

Aku melihat hidup orang lain  begitu nikmat,
Ternyata ia hanya menutupi kekurangannya tanpa berkeluh kesah..

Aku melihat hidup teman2ku tak ada duka dan kepedihan,
Ternyata ia hanya pandai menutupi dengan mensyukuri..

Aku melihat hidup saudaraku tenang tanpa ujian,
Ternyata ia begitu menikmati badai hujan dlm kehidupannya..

Aku melihat hidup sahabatku  begitu sempurna,
Ternyata ia hanya berbahagia  menjadi apa adanya..

Aku melihat hidup tetanggaku  beruntung,
Ternyata ia selalu tunduk pada Allah untuk bergantung..

Setiap hari aku belajar memahami dan mengamati setiap hidup orang yang aku temui..
Ternyata aku yang kurang mensyukuri nikmatMu..
Bahwa di belahan dunia lain masih ada yang belum seberuntung yang aku miliki saat ini....

Dan satu hal yang aku ketahui, bahwa Allahu Rabbi tak pernah mengurangi ketetapanNya.
Hanya aku lah yang masih saja mengkufuri nikmat suratan takdir Ilahi...

Maka aku merasa tidak perlu iri hati dengan rezeki orang lain..

Mungkin aku tak tahu dimana rezekiku.. Tapi rezekiku tahu dimana diriku..

Dari lautan biru, bumi dan gunung, Allah Ta'ala telah memerintahkannya menuju kepadaku...

Allah Ta'ala menjamin rezekiku, sejak 4 bulan 10 hari aku dalam kandungan ibuku..

Amatlah keliru bila bertawakkal rezeki dimaknai dari hasil bekerja..
Karena bekerja adalah ibadah, sedang rezeki itu urusan-Nya..

Melalaikan kebenaran demi menghawatirkan apa yang dijamin-Nya, adalah kekeliruan berganda..

Manusia membanting tulang, demi angka simpanan gaji, yang mungkin esok akan ditinggal mati..

Mereka lupa bahwa hakekat rezeki bukan apa yang tertulis dalam angka, tapi apa yang telah dinikmatinya..

Rezeki tak selalu terletak pada pekerjaan kita, Allah menaruh sekehendak-Nya..

Diulang bolak balik 7x shafa dan marwa, tapi zamzam justru muncul dari kaki sang  bayi, Ismail a.s.
Ikhtiar itu perbuatan.. Rezeki itu kejutan..
Dan yang tidak boleh dilupakan, tiap hakekat rezeki akan ditanya kelak..
"Darimana dan digunakan untuk apa"
Karena rezeki hanyalah "hak pakai", bukan "hak milik"...

Maka, aku  tidak boleh merasa iri pada rezeki orang lain..

Renungan.                                           Pagi

Sabtu, 31 Maret 2018

Nyanyian Sumbang

Aku kedinginan sekali Mama,
menggigil sampai ke ulu hati,
aku ingin memanggilmu untuk segera berlari kemari,
tapi lidahku kelu seakan mau mati,
aku tak tau orang~orang berlarian kesana kemari,
tak memperdulikan keluhanku di pembaringan ini.

Aku lelah sekali Mama,
ingin menangis dan  bersimpuh di pangkuanmu,
aku ingin kau tau Mama,
ada butir hangat mengalir di pelupuk mata,
aku ingin tegar sepertimu Mama,
menikmati keterpurukan dengan sepenggal doa.

Senja dan gerimis turun perlahan,
daun~daun kering luruh berguguran,
aku tidak seperti batu karang Mama,
yang tetap tegar diterjang angin dan gelombang,
lantunan doaku seperti nyanyian sumbang,
tak kuasa mengetuk pintu langit dalam kegelapan.

Aku hanya diam membisu, Mama,
seribu keinginan tercekat,
satu permintaan tak dapat ditunaikan,
hidup seperti merangkai kata~kata,
antara suka dan duka,
dendam atau kerinduan.


Cipali, 23.01 - 31 Maret 2018

Rabu, 28 Maret 2018

Aku Bukan Siapa - Siapa

Tidak ada tempat bagiku (yang selalu berkeluh kesah) di hatimu,
tidak ada tempat bagiku (yang menanggung rindu tanpa makna) di jiwamu,
tidak ada tempat bagiku wahai perempuanku,
tidak ada tempat bagiku wahai pujaanku.


Tempatku adalah penyesalan, kehilangan dan derai air mata,
tempatku adalah cinta tanpa makna.
Tempatku adalah kesunyian, sujud dan tafakur,
tempatku adalah diam atau mengalir tenang,
tempatku bukan milik siapa-siapa,
ku genggam tempatku,
sampai akhir hayat nanti,
di ujung kematian.

Jumat, 16 Maret 2018

Catatan Hamka

senang juga saya ternyata ada teman saya paham bahwa saya bukan membicarakan puisi yang melodramatik dan ekstravagans 

alasan kenapa tidak semua orang saat ini bisa membuat puisi yang bersifat universal adalah karena kesalahpahaman tentang fungsi puisi bahwa puisi sekedar permainan kata-kata saja,

bangsa Arab masa jahiliyah sangat benci kebohongan,
karena mereka tahu bahwa kebohongan itu sangat merusak hati, dan hati yang rusak tidak akan bisa memberikan kekuatan untuk merangkai kata-kata yang beradab tinggi.

tapi kita hidup dimana bahasa disalahgunakan, 
oleh poli-tikus untuk memikat rakyat,
oleh para pecinta palsu untuk merayu pasangannya
dan mengabaikan kerusakan yang disebabkan oleh bahasa pada hati kita.

hati yang demikian tidak mungkin bisa memberikan cahaya.

mungkin saya tidak akan bisa menandingi puisi-puisi zaman dulu, tapi saya tahu bahwa langkah pertama untuk bisa memahami karya puisi itu adalah dengan kedisiplinan untuk menjaga hati saya hanya semata untuk Allah.

dan saya yakin jalan itu akan dibukakan oleh-Nya

"Biarkanlah saya menyebut apa yang terasa,
Kemudian tuan bebas memberi saya nama
dengan apa yang tuan sukai,
Saya adalah pemberi maaf,
dan perangai saya adalah mudah, tidak sulit.
Cuma rasa hati sanubari itu
tidaklah dapat saya menjualnya.
Katakanlah kepadaku, demi Tuhan.
Adakah rasa hati sanubari itu bisa dijual?"

(HAMKA)

Rabu, 28 Februari 2018

Apa Salahku Padamu


Apa salahku padamu,

hingga kau membenciku dengan kebencian tak berujung, 

tak pernah ku nodai kesucianmu,
bahkan kesucianmu telah kau berikan dengan tulus kepada orang yang telah menabur benih~benih suci di rahim~mu.

Apa salahku padamu,
tak pernah aku mengoreskan luka di tubuhmu,
bahkan tak pernah meminta janji dan kesetiaan darimu,
tidak ada sumpah sehidup semati.

Ah, cinta kita cinta monyet,
cinta anak kecil yang sanggup memberi kesenangan karena belas kasih ibu dan bapak.

Lalu apa salahku padamu?
ketololanku membuka jalan bagi orang lain bersemayam dalam hidupmu,

menaburkan benih~benih suci di rahim~mu,
menjadi anak~anak manis yang riang,
yang dirimu rela berkorban jiwa dan raga demi kebahagiaannya,
demi kesuciannya,
lalu apa salahku padamu?


Filr gambar : g+

Pertemuan


Betapa indahnya pertemuan setelah 30 tahun kita dipisahkan,
rindu dan kebahagiaan bertumpah ruah,
bercampur menjadi satu bersama kisah penuh suka duka di masa lalu.

Umur kita memang tak lagi muda,
tenaga dan fikiran kita tak lagi perkasa,
bahkan cerita kehidupan kita ada yang terbalik 180 derajat,
tapi itulah kita,
jiwa~jiwa yang dulu pernah dipersatukan dalam satu kelas,
belajar dan mengaji bersama,
olah raga dan pramuka bersama,
upacara dan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama.

Kita adalah anak~anak yang dulu dididik oleh guru yang sama di sekolah yang sama,suka duka kita lalui bersama,
sampai suatu ketika selembar ijazah memisahkan kita,
ya selembar ijazah perlambang kelulusan kita,
selembar kertas yang membanggakan namun memisahkan kita dari sekolah, teman-teman dan guru-guru tercinta. 

Kini 30 tahun berlalu sudah, ketika usia kita tak lagi muda. Kita dipertemukan lagi dalam canda dan tawa,
dalam alunan rindu dan kebahagiaan.

Tuhanku yang memiliki cara,
Tuhanku yang maha perkasa,
memiliki kuasa mengumpulkan dan memisahkan,
mempersatukan kembali yang tercerai berai dalam jalinan tali silaturahmi yang suci,
di antara sesama alumni 88.

#Kenangan1Feb2018
File gambar : g+